Profil Wilayah
Jauh di penghujung barat laut Kota Kediri, terdapatlah Kelurahan Banjarmlati yang berjarak 2-3 Km dari Kecamatan Mojoroto. Dalam catatan jumlah penduduk, Kelurahan Banjarmlati menempati urutan ketiga di Kecamatan Mojoroto sebagai kelurahan terbesar. nomor satu diduduki oleh Kelurahan Bandar Lor, dan Kelurahan Bandar Kidul menyusul di urutan kedua. Bersumber dari Data Bidang Pencatatan Sipil tanggal 01-10-2025 s/d 15-10-2025, Data Bidang Pendaftaran Penduduk tanggal 01-10-2025 s/d 15-10-2025 pertanggal 15 Oktober 2025 Oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Kediri, penduduk Kelurahan Banjarmlati berjumlah 6776 orang/jiwa di pertengahan bulan. (Sumber:https://dispendukcapil.kedirikota.go.id/submenu/9)
Posisi Geografis
Kelurahan Banjarmlati berada pada titik koordinat 7°50′17.08937″S 111°59′45.68453″E secara geografis berada di sebelah barat aliran Sungai Brantas yang membelah Kota Kediri dari selatan ke utara. Adapun dari aspek topografi, Kelurahan Banjarmlati terletak pada dataran rendah kawasan rawa bataran sungai Brantas pada ketinggian rata-rata 67 mdpl. Tingkat kemiringannya 0o-2o.
Luas Kelurahan
Luas wilayah Kelurahan Banjarmlati adalah 79,54 Ha atau 0,7954 km2,
Dasar Hukum Pendirian
Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan Banjarmlati sebagai Lembaga Pemerintahan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Kediri nomor 11 Tahun 2002. Jika mengacu pada Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 65 Tahun 1999 tentang Pengaturan Umum Pembentukan Kelurahan, saat ini Kelurahan Banjarmlati berumur 26 tahun.
Wilayah Administratif
Secara administratif terbagi menjadi 9 Rukun Warga (RW) 34 Rukun Tetangga (RT).
Kampung penjahit
Kelurahan Banjarmlati memiliki julukan “Kampung Penjahit” Karena mayoritas penduduk memiliki mata pencarian sebagai penjahit berjumlah lebih dari 180 penjahit yang tersebar di lingkungan Pulosari, Nggondak, Njlati.
Sejarah Singkat
Nama "Banjarmlati" berasal dari gabungan kata "Banjar" (deretan/jajaran) dan "Mlati" (bunga melati).
Asal-usul desa ini terkait erat dengan kisah Kiyai Ali Maklum (Mbah Ali), cucu dari Syech Basharuddin Srigading Kalangbret Tulung Agung. Beliau diutus oleh ayahnya, Mbah Ambiya, untuk mencari lokasi baru guna syiar agama Islam. Petunjuknya adalah menyusuri aliran Kali Brantas dan baru boleh "mentas" (berlabuh/keluar dari sungai) setelah menemukan tanah yang berbau wangi.
Setelah menyusuri sungai menggunakan rakit, Mbah Ali mencium bau wangi di wilayah Kediri, tepat di sisi barat sungai. Beliau kemudian berlabuh dan menemukan bahwa daerah tersebut adalah hutan belantara yang dipenuhi oleh bunga melati yang tumbuh berjajar-jajar atau berbanjar-banjar.
Mbah Ali mulai membuka hutan tersebut menjadi perkampungan. Setelah Mbah Ambiya dan keluarga menyusul, tempat itu secara resmi dinamai Banjar Melati. Seiring berjalannya waktu dan perubahan dialek lokal, nama tersebut kemudian lebih sering disebut menjadi Banjarmlati atau Njarlati.
Masjid Al-Alawi
merupakan salah satu masjid bersejarah di Kota Kediri yang diperkirakan berdiri antara akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Ciri khas utamanya terletak pada arsitektur Jawa dengan bangunan induk yang didominasi material kayu jati, mulai dari tiang hingga kerangka atapnya.
Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan—seperti penambahan serambi di bagian depan serta samping—struktur asli bangunan induk tetap terjaga.
Dengan kapasitas mencapai 1.000 jemaah, Masjid Al-Alawi termasuk kategori masjid kampung yang besar di wilayah tersebut.
Tingkat Perkembangan Kelurahan
Sektor Kependudukan Kelurahan Banjarmlati memiliki Jumlah penduduk dan kepala keluarga mengalami peningkatan dari tahun lalu (sekitar 5-6% pertumbuhan). di sektor Ekonomi Total angkatan kerja 3.920 orang, dengan mayoritas bekerja penuh (2.914 orang). untuk sektor Kesejahteraan rari 2.225 keluarga, mayoritas berada di kategori Sejahtera 1 dan Sejahtera 2, sementara 178 keluarga masih prasejahtera.